ALL ABOUT

bengkel SENi Embun adaah sebuah open community yang bergerak di bidang kesenian.
dengan bermaterikan kumpulan anak-anak muda (yang katanya) kreatif dan inovatif.

bengke Seni Embun pertamakali didirikan pada tanggal 23 oktober 2004. oleh sekelompok anak muda yang ingin madndiri dan melepaskan segala kepenatan hidup dengan jalan ber-Kesenian, dan pada akhirnya mampu untuk menciptaka sebuah alternatif hiburan untuk masyarakt sektarnya (AMIN... !!!)

bengkel Seni Embun memiliki 4 divisi utama dalam dunia kesenian. yaitu :
- teater
- musik
- rupa
- tari
hingga saat ini, Bengkel Seni EmbuN telah memiliki lebih dari 300 anggota komunitas yang berkecimpung di bidangnya masing-masing divisi dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. dan dengan di bantu oleh 4 peltih provesional yang telah lama berkecimpung di dunia kesenian. Embun terus berbuat.

Embun hadir dengan konsep bengkel pada umumnya.

Dan berusaha untuk menghadirkan sebuah alternative hiburan batu bagi masyarakat kota ambon.

Senin, 11 April 2011

belajar teater lewat proses penggarapan

BELAJAR teater tidak cukup dengan teori-teori dan latihan dasar semata. Seorang guru atau siswa dalam proses belajar-mengajar sebaiknya mulai berhadapan dengan naskah dan pementasan agar proses pembelajaran bisa lebih matang. Seorang drmawati kondang di Bali, Cok Sawitri, memberikan pelajaran praktis bagaimana proses belajar-mengajar bisa dilakukan dengan langsung berhadapan dengan naskah.

Pengajaran praktis ini berasumsi di sekolah banyak siswa, baik laki-laki maupun perempuan hingga tak ada kendala kekurangan pemain teater. Dan, pelatih/pembina/guru memiliki pengetahuan tentang teater, sudah pernah bermain drama atau minimal pernah menonton drama. Langkah-langkah praktisnya adalah, pertama pelatih memilih naskah kemudian dipelajari.

Kedua, perencanaan setting. Perencanaan setting harus dipikirkan karena setting yang ruwet justru akan menyusahkan. Disarankan naskah yang dipilih adalah naskah dengan desain setting yang sederhana. Ketiga, meneliti mana peran utama dan peran pambantu. Peran utama dibagi dalam peran antagonis dan protagonis. Jadi peran utama itu tidak selalu mewakili kebaikan, juga tidak keburukan, tetapi adalah peran yang memegang paling banyak alur cerita naskah.

Setelah identifikasi jumlah pendukung dalam naskah itu dan kebutuhan setting tergambar, barulah dilakukan pengumpulan para siswa atau siswi calon pemain. Naskah yang sudah dipelajari oleh pelatih/guru disinopsiskan secara sederhana dan dibagikan kepada siswa. Lalu guru menceritakan naskah apa yang akan mereka mainkan, peran-peran di dalamnya.

Lalu ada tahap reading. Dalam tahap ini naskah dibagikan ke semua siswa-siswi. Semua yang terlibat diwajibkan membaca naskah secara keseluruhan. Reading adalah tahap di mana semua siswa/siswi harus memahami semua karakter, dan difungsikan sebagai bedah naskah. Dalam teater, jangan selalu berpatokan peran tokoh perempuan harus dibawakan perempuan, dan tokoh laki-laki harus dimainkan lelaki.

Ketika reading, semua pemain dicoba untuk memasuki peran dengan perlahan. Bersamaan dengan reading ada olah vokal, dan akan diketahui kualitas vokal para pemain. Lalu pelatihan irama, artikulasi, tekanan, dsb. Reading bisa berlangsung 3 - 5 kali, hingga naskah secara keseluruhan benar-benar dibaca. Pada tiap pertemuan supaya tidak jenuh bisa diselingi latihan cara berjalan.

Cara berjalan dalam teori berteater yang lebih luas disebut pemahaman panggung, mulai memahami panggung seperti apa. Dibuat desain panggung yang menghadap penonton seperti biasa (umum) yang mudah dipahami anak-anak. Yang paling penting, cara melangkah dan berjalan dibuat sedemikian rupa hingga siswa paham mana posisi tampak muka dan belakang, tampak samping kanan kiri. Pada saat ini, siswa mulai menyadari bahwa badan meraka adalah hal yang akan ditonton.

Pada saat ini, mulai dilatih ekspresi-ekspresi dasar. Ekspresi dasar misalnya menangis, semua orang akan punya ekspresi yang sama, juga tertawa, tersenyum, dan sebagainya. Kemudian belajar pula sinergi badan, gerakan kaki dan tangan. Misalnya tak boleh ada badan yang melengkung. Juga ketika melakukan dialog, misalnya tangan tak boleh bergerak-gerak tanpa tujuan, kaki bergoyang-goyang, dan sebagainya.

Kemudian langkah selanjutnya adalah audisi, pemilihan dengan melihat dari proses, siapa yang cocok jadi pemeran utama atau pemeran pembantu. Selebihnya siswa-siswi yang ada bisa dilatih untuk menjadi crew stage (kru panggung), yang mendukung misalnya untuk menyiapkan properti, pergantian atau setting. Dan, semuanya akan mamahami mengapa mereka diposisikan demikian. Tetapi, proses latihan tetap harus dilaksanakan bersama.

Terus, pembelajaran dilakukan dengan proses menghapal bagian-bagian dialog, mulai per adegan atau pembabakan, sekaligus mulai latihan blocking. Saat hapalan pertama kali, meski masih memegang naskah, blocking telah didesain dari awal. Bila nanti latihan sudah berjalan, blocking dapat diserahkan kepada pemain untuk improvisasi. Konsep blocking adalah keseimbangan panggung, muka belakang, cara berputar di depan panggung, dan seterusnya.

Selanjutnya adalah tahap seni peran. Tahap ini adalah bagaimana seseorang memasuki peran yang ada dalam naskah sesuai kebutuhan. Misalnya kalau perannya jahat, pemain harus mengidentifikasi bagaimana biasanya orang bersikap jahat. Di sisi lain, siswa yang bertugas di properti mulai membayangkan setting.

Misalnya jika adegan dalam rumah, maka properti apa yang harus disiapkan. Dalam seni peran ini akan nampak sinergi antara dialog, gerakan dan properti. Juga mulai pemahaman tempo dalam dialog dan tempo permainan. Tempo dialog adalah dialog yang mengandung plot (sebab-akibat) ada yang dalam irama cepat, ada yang perlahan. Kemudian ekspresi marah, ekspresi gembira dan sebagainya juga bisa mendorong cepat-lambatnya tempo, tergantung pilihan interpretasi naskah.

Langkah selanjutnya pelatih/guru mulai berjarak untuk melihat struktur dramatik naskah yang dimainkan. Struktur dramatik adalah bagaimana membuat naskah-naskah mengalir dari satu adegan ke adegan lain. Bagaimana jika happy ending, sad ending, mencari klimaks di mana, dan sebagainya. Klimaks bisa tersembunyi dalam adegan, dalam dialog, pun dalam instruksi yang ada dalam teks sampingan (neben-text).

Setelah itu, harus dicoba latihan penuh, artinya dicoba drama dimainkan utuh dari awal sampai akhir. Lalu dilakukan 2-3 kali pembenahan hingga terpenuhi kebutuhan memainkan naskah yang benar. Pertama, seni peran mulai nampak nyata, blocking dan pemanggungan tertata, tempo permainan dan penghayatan yang sudah nampak.

Tahap berikutnya adalah geladi kotor. Tahap ini dilakukan saat di mana harus sudah dipikirkan kostum dan perlengkapan lainnya. Jika hingga tahap ini terdapat pemain yang tidak juga bisa memasuki kadar permainan yang diinginkan, maka harus diingat, bahwa sejak audisi awal banyak sekali pemain-pemain yang telah melalui reading, bisa menjadi pemain cadangan. Lalu terakhir sampailah ada tahap geladi bersih dan evaluasi keseluruhan.

Lama keseluruhan latihan sebuah pementasan drama tergantung dari naskah. Naskah dengan jumlah dialog sekitar 150 bisa mencapai 4 hingga 5 minggu dengan 2 hingga 3 kali pertemuan setiap minggu dengan masing-masing latihan selama 2 jam efektif.

#http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/5/13/pen3.htm

1 komentar:

  1. proses lebih penting dari hasil yang dipentaskan..


    "persaudaraan teater bening"

    BalasHapus